Aplikasi Navigasi Ponsel Ancam GPS pada Mobil

Tim Nixon, Kepala divisi Teknologi General Motors sadar, ada sesuatu yang aneh ketika kedua putranya melakukan pendekatan pada teknologi navigasi (GPS) di dalam mobil. Mereka cukup memutar iPhone ke posisi horizontal dan menempelkannya di jendela depan, lalu mengaktifkan aplikasi peta gratis untuk memandu ke mana mau berjalan hari itu.



Aksi kedua putranya ini sama saja bentuk penolakan atas hasil kerja ayahnya selama ini, yakni meyakinkan konsumen untuk menambah biaya 1.500 dollar AS (Rp 14,9 juta) atau lebih guna mendapat kelengkapan GPS dengan layar sentuh 8 inci di dasbor mobil.
"Sejarah menunjukkan kalau kami sudah menawarkan GPS terintegrasi pada dasbor mobil. Tapi, hal ini tidak akan berhasil lagi saat ini. Permainan sudah berubah dan standar baru sudah ditetapkan lebih tinggi dari piranti yang selalu online, memberikan informasi segar ke dalam mobil," papar Tim.
Fokus pengembangan kali ini adalah menciptakan mobil yang bisa total online. Sekedar bisastreeming ke situs-situs musik dari radio di dalam mobil sudah ketinggalan zaman. Semakin banyak orang menggunakan ponsel pintar, keuntungan pabrikan mobil dari sistem navigasi terancam hilang. Alasannya sederhana, banyak aplikasi peta ditawarkan gratis saat ini, sedangkan GPS di mobil harus bayar 500 - 2.000 dollar AS (Rp 4,9 juta - 19,9 juta).
Jejaring Sosial
Ancaman lain juga datang dari perkembangan situs jejaring sosial dengan mamaksimalkan penggunaan aplikasi peta, seperti Waze. Situs ini diklaim sudah diunduh 48 juta pengguna di dunia, cukup berbekal ponsel pintar. Mereka bisa melaporkan kondisi jalan, kemacetan, kecelakaan, termasuk memilih rute tercepat untuk mencapai lokasi tujuan. Bulan lalu, Google bersaing dengan Facebook untuk mengakuisisi Waze, dengan mahar sampai 1,1 miliar dollar (Rp 10,9 triliun).
"Jika Anda disuruh memilih antara bayar mahal untuk GPS di dasbor mobil atau aplikasi gratis pada iPhone, kira-kira mana yang akan Anda pilih? Jadi (hal ini) bisa dikategorikan ancaman," beber Di-Ann Eisnor, Kepala divisi Bisnis Waze AS.
Ledakkan tren aplikasi mobile pada ponsel ini memaksa pabrikan mobil harus bisa beradaptasi sehingga tetap bisa mendapatkan keuntungan dari sistem navigasi. Sebelumnya, lembaga peneliti IHS Automotive memprediksi jumlah pemasangan sistem navigasi pada mobil jumlahnya akan meningkat menjadi 32,7 juta unit pada 2019, dua kali lipat dari tahun ini yang ditaksir mencapai 13,8 juta. Setengah dari jumlah mobil yang dipasarkan ke dunia sudah dilengkapi sistem navigasi pada saat itu.
Kelemahan
"Fungsi navigasi pada sistem sudah berlaih para penggunaan browser internet atau sisteminfotaiment," tegas Mark Boyadjis, analis dari IHS Automotive di Minnetonka, AS. Bahkan, pelaku industri dari piranti navigasi seperti Garmin dan TomTom mulai menawarkan aplikasi yang kompetibel dengan ponsel pintar.
Hingga kini, sebagian besar sistem navigasi belum bisa online ke internet. Mereka hanya menggunakan peta yang disimpan dalam memori dan menggunakan satelit untuk mengetahui di mana posisi berada. Kelemahan sistem ini cepat ketinggalan informasi. Terutama, lokasi-lokasi baru, yang digemari konsumen seperti kedai kopi atau SPBU baru. Sedangkan aplikasi yang terkoneksi pada internet, bisa terbarui datanya setiap saat.
"Kalau kita mau memperbarui data pada GPS kita, prosesnya rumit dan mahal. Harus pergi ke jaringan resmi. Sedangkan dengan ponsel, cukup unduh versi terbaru," jelas John Canali, analis dari Strategy Alaytics di Boston. Belum lagi, GPS di dasbor tidak jarang justru bikin frustasi penggunanya karena terlalu rumit dan tidak "friendly use" bagi pengemudi.

What's on Your Mind...

Powered by Blogger.
Topics :